Ayahanda Imam Ghozali adalah
seorang penenun wol. Kain hasil
tenunannya biasanya kemudian
dijual ke pasar di kota Thus.
Sesaat sebelum meninggal, dia
berwasiat kepada sahabatnya, yg
merupakan seorang sufi, agar
mendidik dua putranya yg masih
kecil.
"Aku sangat menyesal tidak
mempelajari ilmu tulis menulis.
Aku ingin kedua anakku kelak
bisa menguasainya. Untuk
keperluan mengajar dan
kebutuhan sehari-hari,
gunakanlah harta peninggalanku
ini." pesannya kepada
sahabatnya
itu.
Setelah ayahanda Imam Ghazali
wafat, beliau dan adiknya diasuh
dan dididik oleh Sufi tsb. Tidak
berapa lama harta peninggalan
ayahnya yg sedikit segera habis.
Sang Sufi tidak sanggup lagi
mengasuh keduanya. Dia
berkata,
"Ketahuilah, harta peninggalan
ayah kaliau telah ku belanjakan
utk keperluan kalian berdua. Aku
adalah orang fakir. Aku tidak
punya harta yg cukup untuk
memenuhi kebutuhan kalian.
Sebaiknya kalian berdua
berpura-
pura lah masuk madrasah dan
menjadi murid. Di sana kamu
akan mendapatkan jatah
makanan setiap hari."
Imam Ghazali dan adiknya
akhirnya melaksanakan nasehat
tsb. Keduanya masuk madrasah
dengan tujuan utk mendapatkan
makanan. Namun ternyata, di
madrasah inilah kemudian
keduanya memiliki ilmu yg
banyak
dan derajat yg tinggi. Imam
Ghazali menceritakan hal ini dan
berkata,
ﻃﻠﺒﻨﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺄﺑﻰ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻻ
ﻟﻠﻪ
"Aku mencari ilmu dengan niat
bukan karena Allah, tetapi ilmu
menolak jika bukan karena
Allah."
*Melakukan kebaikan jangan
menunggu niat baik muncul.
Ingin belajar, jangan menunggu
punya niat dan tujuan baik.
Belajarlah sekarang juga! Ilmu yg
dimiliki akan secara otomatis
mengarahkan pemiliknya
memiliki
niat yg baik.
Ingin sedekah, jangan
menunggu
ikhlas. Justru dengan sering
sedekah, hati terbiasa untuk
tidak
merasa berat kehilangan harta.
Dan ikhlas akan datang dengan
sendirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar