Minggu, 26 Januari 2014

Memandang Wajah Ulamak Adalah Ibadah

MEMANDANG WAJAH ULAMA
TERMASUK IBADAH
Ada suatu kaum yang daerah
tempat mereka tinggal tidak
turun
hujan hingga bertahun-tahun.
Mereka sudah hampir mati.
Shalat
Istisqa' dilakukan berkali-kali,
tetapi hujan tidak kunjung
datang.
Kemudian ada seorang yang
dianggap awam, memasuki
daerah tersebut dan berkata,
"Wahai hadirin. Apa yang kalian
lakukan?"
"Istisqa'. Minta hujan." jawab
mereka.
"Bolehkah saya membantu
berdoa
agar hujan turun?"
"Lha wong orang se desa sudah
doa dan istisqa' belum juga
turun
hujan, kok sampean berani
nantang turun hujan?"
"Mungkin doa saya diterima oleh
Allah."
"Ya sudah kalau begitu, monggo
silakan."
Kemudian orang asing tersebut
menengadahkan tangan ke
langit
seraya berdoa,
"Ya Allah, berkat apa yang ada di
mataku ini, tolong turunkan
untuk
mereka hujan ya Allah."
Tidak lebih dari 10 menit langit
mendung. Tidak sampai
setengah
jam kemudian turunlah hujan.
Mereka bertanya,
"Apa doa yang kau lakukan?"
"Saya hanya tawasul dengan
amal
saya."
"Apa amalan yang ada di
matamu?"
"Saya hanya tawasul dengan
mata
saya yang pernah memandang
seorang wali dan ulama,
bernama
Abu Yazid Al Busthami."
* * *
Memandang wajah seorang alim
adalah ibadah. Ini merupakan
salah satu kemuliaan yang
diberikan Allah kepada
hambanya
yang berilmu.
Berdoa agar keinginan
dikabulkan oleh Allah melalui
tawasul dengan amal, dalilnya
tentu sudah kita ketahui. Karena
hadisnya shahih dan masyhur.
Yaitu hadis tiga orang yang
terperangkap di dalam gua.
Dikutip dari ceramah Habib Jamal
bin Thoha Baagil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar